Jumat, 28 Oktober 2016


LAPORAN PRAKTIKUM
AKTIVITAS ENZIM AMYLASE
Diajukan untuk melengkapi tugas dalam mata kuliah Praktikum Fisiologi Hewan yang diampu 
 Oleh Siti Nurkamilah, M.Pd.
Disusun Oleh             :
Mira Novianti                          (14541002)
Hisny Fadilaty                         (14541005)
Irma Yuliana                            14541017)      
Hiban Alianur                          (14541021)
Ulfah Mutia Khoerunnisa        (14541032)
Rani Aprianti                           (14541041)
Sarah Nurhidayah                    (14541024)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) GARUT
2016


AKTIVITAS ENZIM AMYLASE
A.    Tujuan
1.      Menegetahui dan memahami proses pencernaan makanan dengan bantuan saliva
2.      Untuk mengetahui pengaruh temperatur terhadap kerja enzim amilase
B.     Alat dan Bahan
1.      Alat                 :
a.       Tabung reaksi
b.      Gelas kimia
c.       Alat penanggas air dengan pengaturan suhu
d.      Bunsen
e.       Elenmeyer
f.       Corong
g.      Termometer
h.      Spatula
i.        Penjepit tabung reaksi
j.        Pipet tetes
2.      Bahan              :
a.       Saliva
b.      Kain kasa
c.       Larutan iodium
d.      Larutan amilum
C.    Landasan Teori

a.       Kelenjar Ludah

Kelenjar ludah menghasilkan ludah atau air liur (saliva). Kelenjar ludah diantaranya :Kelenjar parotis, terletak di bawah telinga.
  1. Kelenjar submandibularis, terletak di rahang bawah.
  2. Kelenjar sublingualis,  terletak di bawah lidah.
Letak kelenjar ludah di dalam rongga mulut dapat dilihat pada gambar berikut.
a. Kelenjar parotis menghasilkan ludah yang berbentuk cair. Kelenjar submandibularis dan kelenjar sublingualis menghasilkan getah yang mengandung air dan lendir. Ludah berfungsi untuk memudahkan penelanan makanan. Jadi, ludah berfungsi untuk membasahi dan melumasi makanan sehingga mudah ditelan. Selain itu, ludah juga melindungi selaput mulut terhadap panas, dingin, asam, dan basa. Di dalam ludah terdapat enzim ptialin (amilase). Enzim ptialin berfungsi mengubah makanan dalam mulut yang mengandung zat karbohidrat (amilum) menjadi gula sederhana (maltosa). Maltosa mudah dicerna oleh organ pencernaan selanjutnya. Enzim ptialin bekerja dengan baik pada pH antara 6,8 – 7 dan suhu 37oC
b.      Enzim Amilase
Tahukah anda bahwa air liur mengandung sejenis enzim yang berfungsi dalam proses pencernaan makananan ? enzim tersebut bernama enzim ptialin. Tapi karena memiliki kemampuan untuk mengubah amilum menjadi maltosa,, maka enzim ptialin ini disebut juga enzim amilase. Enzim dalam air liur diproduksi oleh kelenjar sativa dalam mulut. Fungsi enzim amilase dalam air liur adalah untuk mengubah amilum menjadi glukosa dan maltosa.
Enzim ptialin yang terdapat pada air liur merupakan enzim amilase dari jenis α-amilase. Enzim α-amilase ini adalah jenis enzim amilase yang hanya berfungsi dalam proses perubahan karbohidrat menjadi glukosa dan maltosa. Enzim α-amilase tidak dapat digunakan untuk memecah senyawa lain selain dari pada karbohidrat.
Maltosa merupakan hasil penguraian dari senyawa karbohidrat. Maltosa adalah sejenis disakarida yang terdapat dalam usus manusia sebagai hasil dari penguraian amilum oleh enzim amilase. Selain dalam usus manusia, maltosa juga di jumpai pada biji-bijian yang berkecambah. Dimana pada fase itu juga terjadi penguraian atau pemecahan pati menjadi gula sederhana.
Amilase adalah enzim yang mengkatalis pemecahan pati menjadi gula. Amilase hadir pada manusia di bagian air liur, dimana mereka memulai proses kimia pencerrnaan. Makanan yang mengandung pati banyak, tetapi sedikit gula, seperti beras dan kentang, rasa sedikit manis karena mereka mengunyah karena ternyata beberapa amilase pati mereka menjadi gula di dalam mulut. Para pankreas juga membuat α-amilase untuk menghidrolisis pati makanan menjadi disakarida dan trisacharides yang di konversi oleh enzim lain untuk glukosa untuk memasok tubuh dengan energi. Tumbuhan dan beberapa bakteri juga menghasilkan amilase. Sebagai diastase, amilase adalah enzim pertama yang ditemukan dan diisolasi (oleh Anselme Payen pada tahun 1833). Amilase khusus protein yang ditunjuk oleh huruf Yunani yang berbeda. Semua amilase adalah hidrolisis glukosida dan bertindak atas α-1,4-obligasi glikosidik.
c.       Klasifikasi Enzim Amilase
Enzim α-amilase adalah kalsium metalloenzymes, sama sekali tidak berfungsi tanpa adanya kalsium. Dengan bertindak di lokasi secara acak disepanjang rantai pati α-amilase amilase memecah bawah rantai panjang karbohidrat, akhirnya mengasilkan maltotriose dan maltosa dari amilosa, atau maltosa, glukosa dan dekstrin batas dari amilopektin. Karena bisa bertindak dimana saja di substrat, α-amilase cenderung lebih cepat aktif daripada β-amilase. Pada hewan, itu adalah utama pencernaan enzim dan pH optimum adalah 6,7-7,0.
Dalam fisiologi manusia, baik amilase saliva dan pankreas adalah α-amilase. Hal ini dibahas lebih detail banyak di α-amilase, juga ditemukan di tanaman jamur.
Kedua α-amilase dan β-amilase yang hadir dalam biji, β-amilase hadir dalam bentuk yang tidak aktif sebelum perkecambahan, sedangkan α-amilase dan protease muncul sekali perkecambahan telah dimulai. Sereal amilase gandum adalah kunci untuk produksi malt. Banyak mikroba yang memproduksi amilase untuk menurunkan pati ekstraseluler. Hewan jaringan tidak mengandung β-amilase, meskipun mungkin ada dalam mikroorganisme terkandung dalam saluran pencernaan.

d.      Sumber Enzim Amilase
Amilase (alfa-betha-glukoamilase) merupakan enzim yang penting dalam bidang pangan dan bioteknologi. Amilase dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti tanaman, binatang dan mikroorganisme. Secara komersial penggunaan mikroba dianggap lebih protektif karena mudah tumbuh, cepat dihasilkan dan kondisi lingkungan dapat dikondisikan.
Produksi enzim amilase dapat menggunakan berbagai sumber carbon. Contoh-contoh sumber karbon yang murah adalah sekam, molase, tepung, tepung jagung, jagung, limbah tapioka dan sebagainya. Jika digunakan limbah sebagai substrat, maka limbah tadi dapat diperkaya nutrisinya untuk mengoptimalkan produksi enzim. Sumber karbon yang dapat digunakan sebagai suplemen antara lain : pati, sukrosa, maltosa, dekstyrosa, fruktosa, dan glukosa. Sumber nitrogen sebagai suplemen antara lain : pepton, tripton, ekstrak daging, ekstrak khamir, amonium sulfat, amonium sulfat, tepung kedelai, urea dan natrium sulfat.sumber enzim kasar dapat diukur aktivitas enzimnya dengan cara campur enzim dengan seluble strach 1% dalam bufer sodium asetat 0,1 M (pH 0,6) pada suhu 50 C selama 5 menit. Ukur glukosa yang dihasilkan. Satu unit aktivitas dijabarkan sebagai jumlah enzim yang memberikan 1 mg glukosa permenit pada 50 C.
e.       Fungsi dan Peranan Amilase Dalam Kehidupan
Didalam mulut makanan bercampur dengan air ludah yang mengundang enzim amilase. Enzim amilase bekerja mencegah karbohidrat rantai panjang seperti amilum dan dekstrin, akan diurai menjadi molekul yang lebih sederhana yaitu maltosa. Sedangkan air ludah berguna untuk melicinkan makanan agar mudah ditelan. Hanya sebagian kecil amilum yang dapat dicerna di dalam mulut, oleh karena makanan sebentar saja berada di dalam rongga mulut. Oleh karena itu sebaiknya makanan dikunyah lebih lama agar memberi kesempatan lebih banyak  pemecahan amilum di rongga mulut. Dengan proses mekanik, makanan ditelan melalui kerongkongan dan selanjutnya akan memasuki lambung.


D.    Cara Kerja
1.      Saliva yang telah terkumpuldari semua praktikum kemudian disaring dengan kain kasar sebanyak 20mL.
2.      Tiga buah penangas air disiapkan, Gelas A dipanaskan sampai suhu 90o C, Gelas B dipanaskan sampai suhu 37-38o C, Gelas C tidak dipanaskan (24oC)
3.      Larutan amilum disiapkan masing-masing sebanyak 5 ml ke dalam tiga tabung reaksi.
4.      Tabung reaksi yang berisi larutan amylum dipanaskan ke dalam gelas kimia A,B dan C selama 10 menit dengan menjaga kestabilan suhu air.
5.      Setelah 10 menit kemudian pada masing-masing tabung reaksi di masukan 15 tetes saliva yang telah di saring dan mencatat waktu pemasukan.
6.      Setiap interval 1 menit di lakukan tes dengan larutan lugol sampai terjadi titik achromatis dan mencatat waktunya.
7.      Selama pengujian aktivitas enzim amylase tabung reaksi tidak boleh di keluarkan dan menjaga masing-masing penangas air agar tetap konstan.
8.      Kemudian membandingkan hasil dari masing-masing tabung percobaan.


E.     Hasil Pengamatan
a.       Perubahan Warna Larutan dengan T >90oC
No
Waktu (menit)
Perubahan Warna
1.
0
+++
2.
1
-
3.
2
+
4.
3
+
5.
4
-
6.
5
-
7.
6
+
8.
7
+
9.
8
+
10.
9
+
11.
10
+

b.      Perubahan Warna Larutan dengan T 37oC-38oC
No
Waktu (menit)
Perubahan Warna
1.
0
+++
2.
1
+++
3.
2
+++
4.
3
++
5.
4
++
6.
5
+
7.
6
+
8.
7
+
9.
8
+
10.
9
+
11.
10
Rusak

c.       Perubahan Warna Larutan dengan T <24oC
No
Waktu (menit)
Perubahan Warna
1.
0
+++
2.
1
-
3.
2
-
4.
3
++
5.
4
+
6.
5
+
7.
6
+
8.
7
+
9.
8
+
10.
9
+
11.
10
+

Ketereangan :
Biru pekat                         : +++
Biru                       : ++
Biru pudar             : +
Tidak ada perubahan warna : -

F.     Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan mengenai aktivitas enzim amylase dapat diketahui bahwa enzim amylase bekerja optimal pada suhu 37-38oC sehingga pada suhu kurang atau lebih dari 37-38oC  enzim amylase kurang bekerja secara optimal
Pada suhu 24oC enzim amylase tidak bekerja secara optimal di tandai dengan lamanya perubahan warna larutan dari warna putih menjadi warna ke kuningan dengan adanya endapan warna putih . Sedangkan pada suhu37-38oC  kerja enzim optimum di tandai dengn perubahan warna yang cepat ketika di tambahkan indikator lugol dari warna putih menjadi biru pudar dan menjadi putih kembali. Dengan adanya endapan di bagian bawah tabung reaksi
Pada suhu  > 90oC terjadi kerusakan pada enzim amylase karena kenaikan suhu yang ekstrim. Ditandai dengan adanya gumpalan pada bagian bawah tabung reaksi yang menyebabkan enzim tidak bekerja.
f.                                                                Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa suhu mempengaruhi kerja enzym amilase. Enzym amilase bekerja pada suhu tertentu. Suhu37-38oC adalah suhu yang optimum untuk enzim amilase bekerja disebut titiki Archomatis. Selain itu, kami dapat mengetahui dan memahami proses pencernaan makanan dengan bantuan saliva dimana di dalam saliva itu terdapat enzim amilase yang berfungsi untuk merombak karbohidrat menjadi glukosa
 
G. Daptar Pustaka 
  •  http://tatangsma.com/2015/02/struktur-molekul-adenosin-trifosfat-atp.html
  • http://googleweblight.com/2lite-url=http://edu.autada.com






Tidak ada komentar:

Posting Komentar